Bulan September selalu punya makna khusus buatku. Di bulan ini, delapan tahun silam, adalah awal perjalanan panjangku menapak “dunia hitam”. Entah bagaimana dulu awalnya, pada suatu siang yang terik, tiba-tiba saja langkah kaki mengantarku ke sebuah kedai kopi di daerah Wisma Tropodo, Sidoarjo. Dan tiba-tiba saja aku sudah terlibat percakapan panjang lebar dengan brewer kedai tersebut, seorang bapak paroh baya dengan kumis tebal bertengger diatas bibirnya yang selalu tersenyum disepanjang obrolan kami.

Pak Budi, demikian namanya, menawariku kopi manual brewing ketika aku yang kepo, mendekati meja seduh dan mulai bertanya-tanya. Beliau memilihkanku kopi Bali Kintamani demi mengetahui bahwa aku belum mengenal kopi semacam itu sebelumnya. Alasan beliau adalah karena kopi ini “paling ringan” diantara single origin lain yang beliau miliki. Biar lidahku nggak kaget. Beliau juga menjelaskan bahaya kopi saset setelah mengetahui habitku yang sudah hampir addicted dengan kopi-kopi saset yang manis. Aku membenarkan sepenuhnya hal itu, hanya saja saat itu rasanya susah sekali lepas dari kopi saset. Sepulang dari kedai tersebut, aku berazzam untuk meninggalkan kopi saset dan mulai mempelajari kopi manual brewing dengan level kepoku yang tinggi dan totalitas yang luar biasa.


Delapan tahun berlalu, banyak yang aku pelajari. Dan tentunya lebih banyak lagi yang belum kupelajari tentang “dunia hitam” ini. Hari ini aku ingin mengenang awal mula perjalanan panjangku dengan kopi yang sama saat pertama kali aku mengenal manual brewing. Terimakasih kepada Pak Budi almarhum, yang telah mengenalkanku kepada “dunia hitam” yang nggak ada habisnya untuk aku kulik hingga detik ini.

Wildrose Coffee, September 30th, 2023